Selasa, 24 Desember 2013

Helvy Tiana Rosa


Helvy Tiana Rosa (lahir di Medan, Sumatera Utara, 2 April 1970; umur 43 tahun) adalah sastrawan, Pendiri Forum Lingkar Pena dan dosen di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta.
Tahun 1990 saat duduk di tingkat II FSUI, Helvy mendirikan Teater Bening—sebuah teater kampus yang seluruh anggotanya adalah perempuan. Ia menulis naskah dan menyutradarai berbagai pementasan teater tersebut. Meski awalnya dibentuk sebagai teater kampus, para anggotanya yang telah lulus kuliah, tetap latihan seperti biasa. Mereka mementaskan "Aminah dan Palestina" (1991), "Negeri para Pesulap" (1993), "Maut di Kamp Loka" (1994) dan "Fathiya dari Srebrenica" (1994) di Auditorium FSUI. Mereka juga mementaskan drama-drama satu babak yang diambil dari cerpen-cerpen karya Helvy Tiana Rosa: untuk dibawa pentas keliling kampus di Jabodetabek, Jawa dan Sumatera. Tahun 1997 mereka membawakan "Pertemuan Perempuan" yang Helvy tulis bersama Muthia Syahidah di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, "Mencari Senyuman" (1998), dan "Mata Airmata Merdeka", naskah yang ditulisnya bersama Rahmadiyanti di Gedung Kesenian Jakarta (2000). Tahun 2005, naskah Helvy, "Tanah Perempuan" masuk tiga besar dalam Workshop Penulisan Naskah Drama Perempuan Indonesia yang diadakan Women Playwrights Indonesia, bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya UI dan DKJ, 2005, diikuti sekitar 300 peserta. Namun kendala yang dialami para anggota Teater Bening yang kebanyakan telah menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak, membuat Teater Bening tak sanggup untuk mementaskannya. Tahun 2009 Helvy mementaskan naskahnya: Tanah Perempuan, kali ini bersama para mahasiswanya di Bengkel Sastra UNJ. Pementasan keliling dilakukan di Universitas Negeri Jakarta, Gedung Kesenian Jakarta, CCL Bandung dan Auditorium RRI, Banda Aceh. Helvy tidak menyutradarai dan mempercayakan penyutradaraannya pada Ferdi Firdaus. Tahun 2012 Helvy diundang menulis dalam Indonesian Dramatic Reading Festival lewat lakon "Jiroris".
Meski sudah menulis ratusan cerpen sejak kecil dan remaja, karya-karya Helvy tak kunjung dibukukan hingga 1997. Helvy kerap berupaya mengumpulkan cerpen-cerpennya yang berserakan di berbagai media, terutama di Majalah Annida dan membawanya ke penerbit. Tahun 1995 ia pernah menunggu empat jam di sebuah penerbitan sambil membawa naskahnya dan pulang dengan tangan hampa. Tahun 1996 tanpa sepengetahuan Helvy, cerpen-cerpen Helvy yang berserakan itu diterbitkan oleh Ummah Media, Malaysia dan diakui sebagai karya dari Ahmad Faris Muda, dosen di Universiti Kebangsaan Malaysia. Helvy sempat ingin menempuh jalur hukum, namun karena rumit dan berbelit-belit serta membutuhkan biaya untuk pengacara, ia kemudian hanya bisa menuliskan tentang hal tersebut di koran-koran.
Tahun 1997 akhirnya Majalah Annida melalui Penerbit Pustaka Annida dan menerbitkan karya Helvy: Ketika Mas Gagah Pergi. Buku ini membawanya mewakili Indonesia untuk pertama kalinya dalam Short Story Writing Program yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara, 1998. Tahun 1999 Helvy diundang mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Bahru, Malaysia. Tahun 2000 cerpennya tentang Aceh: “Jaring-Jaring Merah”yang ditulis sebelum reformasi 1998, terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Majalah Horison dalam satu dekade (1990-2000). Tahun 2000 ia diundang mengikuti Kongres Cerpen I Indonesia di Yogyakarta dan Pertemuan Sastrawan Nusantara XI di Brunei Darussalam (2001). Tahun 2001 Helvy diundang membacakan puisinya pada acara Baca Puisi Tiga Generasi di Taman Ismail Marzuki, bersama Toety Herati, Leon Agusta, Afrizal Malna, Isbedy Stiawan dan Dorothea Rosa Herliany. Pada tahun yang sama Helvy melanjutkan kuliah pascasarjana di Jurusan Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Salah satu dosen yang mengajarnya adalah penyair terkemuka Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Pada tahun itu pula bersama Taufiq Ismail, WS Rendra, Hamid Jabbar, Emha Ainun Najib Helvy diundang ke Banda Aceh dalam acara Sastrawan Bicara Siswa Bertanya.
Tahun 2002 bersama Martin Aleida, ia diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk membacakan cerpen-cerpennya di Taman Ismail Marzuki. Helvy diundang ke Kairo, Mesir untuk mengisi acara Simposium Budaya di Universitas Al Azhar Mesir (2002), bekerjasama dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia ICMI. Saat itu pula ia meresmikan berdirinya Forum Lingkar Pena Mesir, dengan Ketua Habiburrahman El Shirazy. Bersama dengan teman-temannya di FLP, Habiburrahman mengikuti workshop penulisan yang waktu itu disampaikan Helvy dan Ahmadun Y. Herfanda, diadakan oleh FLP Mesir dan ICMI.
Helvy menjadi sastrawan Indonesia pertama yang diundang membentangkan makalah dalam Singapore Writers Festival bersama sastrawan lain dari puluhan negara (2003). Ia juga diminta menjadi juri kehormatan Golden Point Award, suatu ajang penghargaan sastra bergengsi di Singapura. Pada tahun yang sama ia diundang oleh University of Wisconsin dan University of Michigan, Amerika Serikat, untuk berbicara mengenai karya-karyanya dan Forum Lingkar Pena yang ia dirikan. Helvy juga terpilih sebagai Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, yang bermarkas di Taman Ismail Marzuki, periode 2003-2006 bersama Maman S. Mahayana, Agus R. Sarjono dan Jamal D. Rahman. Februari 2004 Forum Lingkar Pena Hong Kong diresmikan.
Tahun 2005 Helvy diangkat sebagai dosen tetap (PNS), di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta. Pada tahun yang sama, Helvy memberi workshop penulisan bagi para buruh migran FLP bekerjasama dengan Kowloon City University, Hong Kong. Ia ke Tokyo, untuk memberi pelatihan pada FLP Jepang dan sempat mengisi kuliah di Chun Yao University, Jepang (2005). Buku-buku Helvy terus terbit dan cerpen-cerpennya diterjemahkan dalam beberapa bahasa seperti: Inggris, Perancis, Jerman, Arab, Jepang dan Swedia. Tahun 2006 Helvy terpilih sebagai Anggota Majelis Sastra Asia Tenggara/ Mastera. Los Angeles Times, (2007) mengatakan karya-karya Helvy fokus mengangkat persoalan hak-hak asasi manusia, terutama bagi wanita dan anak-anak di wilayah konflik. Helvy semakin sering diundang mengisi seminar dan workshop yang berkaitan dengan kepenulisan, pendidikan, parenting dan keislaman dalam skala nasional dan internasional.
Tahun 2008 Majalah Madina menempatkannya sebagai satu dari 25 Tokoh Islam Damai Indonesia. Tahun 2008 bersama rekan dosennya Edi Sutarto yang juga anggota Teater Koma, Helvy mendirikan Bengkel Sastra UNJ sebagai wadah kreativitas para mahasiswanya dalam bidang sastra dan teater. Tahun 2009 ia menjadi satu dari 10 Perempuan Penulis Paling Terkenal di Indonesia, hasil survey Metro TV . Tahun itu pula ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Liga Sastra Islam Sedunia / The International League of Islamic Literature, untuk Wilayah Indonesia. Hasil riset The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Jordan menempatkan Helvy sebagai satu dari 500 Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia (The World's Most 500 Influential Muslims), empat tahun berturut-turut (2009, 2010, 2011, 2012). Oktober 2011 Helvy dipercaya sebagai Anggota Komisi Pengembangan Seni Budaya Islam, Majelis Ulama Indonesia. Kini Helvy tengah merampungkan gelar doktoralnya di bidang Pendidikan Bahasa di Universitas Negeri Jakarta.
karya :
Mata Ketiga Cinta (ANPH, 2012)
Kartini 2012: Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia Mutakhir (Kosakatakita, 2012)
Ketika Mas Gagah Pergi...dan Kembali (ANPH,2011)
Bukavu (LPPH, 2008)
Catatan Pernikahan (LPPH, 2008)
Tanah Perempuan, Naskah Drama (Lapena, 2007)
Risalah Cinta (Lingkar Pena Publishing House, 2005)
Menulis Bisa Bikin Kaya! (MVP, 2006)
Perempuan Bermata Lembut ( Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2005)
Ketika Cinta Menemukanmu (Antologi Cerpen Bersama, Gema Insani Press, 2005)
Dokumen Jibril (Antologi Cerpen Bersama, Republika, 2005)
Jilbab Pertamaku (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2005)
1001 Kisah Luar Biasa dari Orang-orang Biasa (Penerbit Anak Saleh 2004)
Dari Pemburu ke Teurapeutik (Antologi Cerpen Bersama, Pusat Bahasa, 2004)
Lelaki Semesta (Antologi Cerpen Bersama, LPPH, 2004)
Matahari Tak Pernah Sendiri I (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2004)
Di Sini Ada Cinta! (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2004)
Leksikon Sastra Jakarta (DKJ dan Penerbit Bentang, 2003)
Segenggam Gumam, Esai-esai Sastra dan Budaya, Syaamil, 2003)
Bukan di Negeri Dongeng (Syaamil, 2003)
Lelaki Kabut dan Boneka/ Dolls and The Man of Mist, Kumpulan Cerpen Dwi Bahasa (Syaamil, 2002)
Wanita yang Mengalahkan Setan, Kritik Sastra (Tamboer Press/ Indonesia Tera, 2002)
Pelangi Nurani (Syaamil, 2002)
Sajadah Kata (Antologi Puisi Bersama, Syaamil, 2002)
Kitab Cerpen: Horison Sastra Indonesia (Yayasan Indonesia & Ford Foundation, 2002)
Dunia Perempuan (Antologi Cerpen Bersama, Bentang, 2002)
Ini…Sirkus Senyum (Antologi Cerpen Bersama, Komunitas Bumi Manusia, 2002)
Luka Telah Menyapa Cinta (Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2002)
Kado Pernikahan (Antologi Cerpen Bersama, Syaamil, 2002)
Graffiti Gratitude (Antologi Puisi Bersama, Penerbit Angkasa, 2001)
Dari Fansuri ke Handayani (Penerbit Horison dan Ford Foundation, 2001)
Ketika Duka Tersenyum (Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2001)
Titian Pelangi, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000)
Hari-Hari Cinta Tiara, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000)
Akira no Seisen/ Akira: Muslim wa tashiwa, Novel (Syaamil, 2000)
Pangeranku, Cerita Anak (Syaamil, 2000)
Manusia-Manusia Langit, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 2000)
Nyanyian Perjalanan, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999)
Hingga Batu Bicara, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999)
Lentera (An Najah Press,1999)
Kembara Kasih, Novel (Pustaka Annida, 1999)
Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah, Kumpulan Cerpen (Gunung Jati, 1999)
Ketika Mas Gagah Pergi, Kumpulan Cerpen (Pustaka Annida, 1997. Cet II dstnya Syaamil )
Mc Alliester, Novel (Moslem Press, London, 1996)
Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia (Kumpulan Tulisan Bersama, Grasindo, 2000.)
Kembang Mayang (Antologi Cerpen Bersama, Penerbit Kelompok Cinta Baca, 2000)
Sembilan Mata Hati (Antologi Cerpen Bersama, Pustaka Annida, Jakarta, 1998), dll

Tidak ada komentar:

Posting Komentar