Selasa, 24 Desember 2013

Helvy Tiana Rosa


Helvy Tiana Rosa (lahir di Medan, Sumatera Utara, 2 April 1970; umur 43 tahun) adalah sastrawan, Pendiri Forum Lingkar Pena dan dosen di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta.
Tahun 1990 saat duduk di tingkat II FSUI, Helvy mendirikan Teater Bening—sebuah teater kampus yang seluruh anggotanya adalah perempuan. Ia menulis naskah dan menyutradarai berbagai pementasan teater tersebut. Meski awalnya dibentuk sebagai teater kampus, para anggotanya yang telah lulus kuliah, tetap latihan seperti biasa. Mereka mementaskan "Aminah dan Palestina" (1991), "Negeri para Pesulap" (1993), "Maut di Kamp Loka" (1994) dan "Fathiya dari Srebrenica" (1994) di Auditorium FSUI. Mereka juga mementaskan drama-drama satu babak yang diambil dari cerpen-cerpen karya Helvy Tiana Rosa: untuk dibawa pentas keliling kampus di Jabodetabek, Jawa dan Sumatera. Tahun 1997 mereka membawakan "Pertemuan Perempuan" yang Helvy tulis bersama Muthia Syahidah di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, "Mencari Senyuman" (1998), dan "Mata Airmata Merdeka", naskah yang ditulisnya bersama Rahmadiyanti di Gedung Kesenian Jakarta (2000). Tahun 2005, naskah Helvy, "Tanah Perempuan" masuk tiga besar dalam Workshop Penulisan Naskah Drama Perempuan Indonesia yang diadakan Women Playwrights Indonesia, bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya UI dan DKJ, 2005, diikuti sekitar 300 peserta. Namun kendala yang dialami para anggota Teater Bening yang kebanyakan telah menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak, membuat Teater Bening tak sanggup untuk mementaskannya. Tahun 2009 Helvy mementaskan naskahnya: Tanah Perempuan, kali ini bersama para mahasiswanya di Bengkel Sastra UNJ. Pementasan keliling dilakukan di Universitas Negeri Jakarta, Gedung Kesenian Jakarta, CCL Bandung dan Auditorium RRI, Banda Aceh. Helvy tidak menyutradarai dan mempercayakan penyutradaraannya pada Ferdi Firdaus. Tahun 2012 Helvy diundang menulis dalam Indonesian Dramatic Reading Festival lewat lakon "Jiroris".
Meski sudah menulis ratusan cerpen sejak kecil dan remaja, karya-karya Helvy tak kunjung dibukukan hingga 1997. Helvy kerap berupaya mengumpulkan cerpen-cerpennya yang berserakan di berbagai media, terutama di Majalah Annida dan membawanya ke penerbit. Tahun 1995 ia pernah menunggu empat jam di sebuah penerbitan sambil membawa naskahnya dan pulang dengan tangan hampa. Tahun 1996 tanpa sepengetahuan Helvy, cerpen-cerpen Helvy yang berserakan itu diterbitkan oleh Ummah Media, Malaysia dan diakui sebagai karya dari Ahmad Faris Muda, dosen di Universiti Kebangsaan Malaysia. Helvy sempat ingin menempuh jalur hukum, namun karena rumit dan berbelit-belit serta membutuhkan biaya untuk pengacara, ia kemudian hanya bisa menuliskan tentang hal tersebut di koran-koran.
Tahun 1997 akhirnya Majalah Annida melalui Penerbit Pustaka Annida dan menerbitkan karya Helvy: Ketika Mas Gagah Pergi. Buku ini membawanya mewakili Indonesia untuk pertama kalinya dalam Short Story Writing Program yang diadakan Majelis Sastra Asia Tenggara, 1998. Tahun 1999 Helvy diundang mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Bahru, Malaysia. Tahun 2000 cerpennya tentang Aceh: “Jaring-Jaring Merah”yang ditulis sebelum reformasi 1998, terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Majalah Horison dalam satu dekade (1990-2000). Tahun 2000 ia diundang mengikuti Kongres Cerpen I Indonesia di Yogyakarta dan Pertemuan Sastrawan Nusantara XI di Brunei Darussalam (2001). Tahun 2001 Helvy diundang membacakan puisinya pada acara Baca Puisi Tiga Generasi di Taman Ismail Marzuki, bersama Toety Herati, Leon Agusta, Afrizal Malna, Isbedy Stiawan dan Dorothea Rosa Herliany. Pada tahun yang sama Helvy melanjutkan kuliah pascasarjana di Jurusan Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Salah satu dosen yang mengajarnya adalah penyair terkemuka Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Pada tahun itu pula bersama Taufiq Ismail, WS Rendra, Hamid Jabbar, Emha Ainun Najib Helvy diundang ke Banda Aceh dalam acara Sastrawan Bicara Siswa Bertanya.
Tahun 2002 bersama Martin Aleida, ia diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk membacakan cerpen-cerpennya di Taman Ismail Marzuki. Helvy diundang ke Kairo, Mesir untuk mengisi acara Simposium Budaya di Universitas Al Azhar Mesir (2002), bekerjasama dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia ICMI. Saat itu pula ia meresmikan berdirinya Forum Lingkar Pena Mesir, dengan Ketua Habiburrahman El Shirazy. Bersama dengan teman-temannya di FLP, Habiburrahman mengikuti workshop penulisan yang waktu itu disampaikan Helvy dan Ahmadun Y. Herfanda, diadakan oleh FLP Mesir dan ICMI.
Helvy menjadi sastrawan Indonesia pertama yang diundang membentangkan makalah dalam Singapore Writers Festival bersama sastrawan lain dari puluhan negara (2003). Ia juga diminta menjadi juri kehormatan Golden Point Award, suatu ajang penghargaan sastra bergengsi di Singapura. Pada tahun yang sama ia diundang oleh University of Wisconsin dan University of Michigan, Amerika Serikat, untuk berbicara mengenai karya-karyanya dan Forum Lingkar Pena yang ia dirikan. Helvy juga terpilih sebagai Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, yang bermarkas di Taman Ismail Marzuki, periode 2003-2006 bersama Maman S. Mahayana, Agus R. Sarjono dan Jamal D. Rahman. Februari 2004 Forum Lingkar Pena Hong Kong diresmikan.
Tahun 2005 Helvy diangkat sebagai dosen tetap (PNS), di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta. Pada tahun yang sama, Helvy memberi workshop penulisan bagi para buruh migran FLP bekerjasama dengan Kowloon City University, Hong Kong. Ia ke Tokyo, untuk memberi pelatihan pada FLP Jepang dan sempat mengisi kuliah di Chun Yao University, Jepang (2005). Buku-buku Helvy terus terbit dan cerpen-cerpennya diterjemahkan dalam beberapa bahasa seperti: Inggris, Perancis, Jerman, Arab, Jepang dan Swedia. Tahun 2006 Helvy terpilih sebagai Anggota Majelis Sastra Asia Tenggara/ Mastera. Los Angeles Times, (2007) mengatakan karya-karya Helvy fokus mengangkat persoalan hak-hak asasi manusia, terutama bagi wanita dan anak-anak di wilayah konflik. Helvy semakin sering diundang mengisi seminar dan workshop yang berkaitan dengan kepenulisan, pendidikan, parenting dan keislaman dalam skala nasional dan internasional.
Tahun 2008 Majalah Madina menempatkannya sebagai satu dari 25 Tokoh Islam Damai Indonesia. Tahun 2008 bersama rekan dosennya Edi Sutarto yang juga anggota Teater Koma, Helvy mendirikan Bengkel Sastra UNJ sebagai wadah kreativitas para mahasiswanya dalam bidang sastra dan teater. Tahun 2009 ia menjadi satu dari 10 Perempuan Penulis Paling Terkenal di Indonesia, hasil survey Metro TV . Tahun itu pula ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Liga Sastra Islam Sedunia / The International League of Islamic Literature, untuk Wilayah Indonesia. Hasil riset The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Jordan menempatkan Helvy sebagai satu dari 500 Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia (The World's Most 500 Influential Muslims), empat tahun berturut-turut (2009, 2010, 2011, 2012). Oktober 2011 Helvy dipercaya sebagai Anggota Komisi Pengembangan Seni Budaya Islam, Majelis Ulama Indonesia. Kini Helvy tengah merampungkan gelar doktoralnya di bidang Pendidikan Bahasa di Universitas Negeri Jakarta.
karya :
Mata Ketiga Cinta (ANPH, 2012)
Kartini 2012: Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia Mutakhir (Kosakatakita, 2012)
Ketika Mas Gagah Pergi...dan Kembali (ANPH,2011)
Bukavu (LPPH, 2008)
Catatan Pernikahan (LPPH, 2008)
Tanah Perempuan, Naskah Drama (Lapena, 2007)
Risalah Cinta (Lingkar Pena Publishing House, 2005)
Menulis Bisa Bikin Kaya! (MVP, 2006)
Perempuan Bermata Lembut ( Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2005)
Ketika Cinta Menemukanmu (Antologi Cerpen Bersama, Gema Insani Press, 2005)
Dokumen Jibril (Antologi Cerpen Bersama, Republika, 2005)
Jilbab Pertamaku (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2005)
1001 Kisah Luar Biasa dari Orang-orang Biasa (Penerbit Anak Saleh 2004)
Dari Pemburu ke Teurapeutik (Antologi Cerpen Bersama, Pusat Bahasa, 2004)
Lelaki Semesta (Antologi Cerpen Bersama, LPPH, 2004)
Matahari Tak Pernah Sendiri I (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2004)
Di Sini Ada Cinta! (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2004)
Leksikon Sastra Jakarta (DKJ dan Penerbit Bentang, 2003)
Segenggam Gumam, Esai-esai Sastra dan Budaya, Syaamil, 2003)
Bukan di Negeri Dongeng (Syaamil, 2003)
Lelaki Kabut dan Boneka/ Dolls and The Man of Mist, Kumpulan Cerpen Dwi Bahasa (Syaamil, 2002)
Wanita yang Mengalahkan Setan, Kritik Sastra (Tamboer Press/ Indonesia Tera, 2002)
Pelangi Nurani (Syaamil, 2002)
Sajadah Kata (Antologi Puisi Bersama, Syaamil, 2002)
Kitab Cerpen: Horison Sastra Indonesia (Yayasan Indonesia & Ford Foundation, 2002)
Dunia Perempuan (Antologi Cerpen Bersama, Bentang, 2002)
Ini…Sirkus Senyum (Antologi Cerpen Bersama, Komunitas Bumi Manusia, 2002)
Luka Telah Menyapa Cinta (Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2002)
Kado Pernikahan (Antologi Cerpen Bersama, Syaamil, 2002)
Graffiti Gratitude (Antologi Puisi Bersama, Penerbit Angkasa, 2001)
Dari Fansuri ke Handayani (Penerbit Horison dan Ford Foundation, 2001)
Ketika Duka Tersenyum (Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2001)
Titian Pelangi, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000)
Hari-Hari Cinta Tiara, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000)
Akira no Seisen/ Akira: Muslim wa tashiwa, Novel (Syaamil, 2000)
Pangeranku, Cerita Anak (Syaamil, 2000)
Manusia-Manusia Langit, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 2000)
Nyanyian Perjalanan, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999)
Hingga Batu Bicara, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999)
Lentera (An Najah Press,1999)
Kembara Kasih, Novel (Pustaka Annida, 1999)
Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah, Kumpulan Cerpen (Gunung Jati, 1999)
Ketika Mas Gagah Pergi, Kumpulan Cerpen (Pustaka Annida, 1997. Cet II dstnya Syaamil )
Mc Alliester, Novel (Moslem Press, London, 1996)
Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia (Kumpulan Tulisan Bersama, Grasindo, 2000.)
Kembang Mayang (Antologi Cerpen Bersama, Penerbit Kelompok Cinta Baca, 2000)
Sembilan Mata Hati (Antologi Cerpen Bersama, Pustaka Annida, Jakarta, 1998), dll

Toety Heraty


Toety Heraty
Noerhadi-Roosseno

Lahir :
Bandung Jawa Barat,
 27 November 1933

Pendidikan :
Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung (1955),
Sarjana Psikologi UniversitasIndonesia (1962),
Sarjana Filsafat dari Rijks Universiteit, Leiden, Belanda (1974),
Doktor Filsafat dari UniversitasIndonesia (1979),

Profesi :
Dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia,
Ketua Jurusan Filsafat di FSUI,
Ketua Program Studi Filsafat Universitas Indonesia,
Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI),
Anggota Dewan Riset Nasional (DRN),
Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI),
Dewan Penasehat Yayasan Suara Ibu Peduli,
Dewan Penasehat Koalisi Perempuan Indonesia,
Pimpinan Galeri Cemara 6,
Ketua Dewan Pembina Yayasan LBH Indonesia,
Anggota Akademi Jakarta

Karya Tulis :
Sajak-sajak 33 (1971),
Aku Dalam Budaya (1984),
Seserpih Pinang Sekapur Sirih (1979),
Mimpi dan Prestasi (1982),
Manifestasi Puisi
 Indonesia-Belanda (1986),
Woman in Asia: Beyond the Domestic Domain (1989),
Wanita Multidimensional (1990),
Nostalgi-Transedensi (1995),
Calon Arang-Kisah Perempuan Korban Patriarki (2000,
Hidup Matinya Sang Pengarang (2000),
A Time A Season (2003)

Penghargaan :
Guru Besar Luar Biasa dari Universitas Indonesia (1994)
Anak pertama dari Prof. DR. Ir. R. Roosseno ini lahir di Bandung, menikah dengan Prof. Dr. Eddy Noerhadi (alm) dan dianugerahi 4 orang anak. Toety Heraty mengawali karir sebagai tenaga pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, menjabat sebagai Ketua Jurusan Filsafat di FSUI dan Ketua Program Studi Filsafat di Universitas Indonesia, Institut Kesenian Jakarta, Institut Pertanian Bogor, dan Institut Agama Islam Nusantara.

Aktif memberi bimbingan akademis di bidang filsafat, salah satunya bertindak sebagai promotor Dr. Kalina Leksono Supeli. Kini beliau menjadi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) untuk bidang budaya. Anggota Dewan Riset Nasional (DRN), pernah menjadi Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) dan Center for Information and Development Studies (CIDES), tapi hanya sebentar karena merasa tidak sehaluan. Disamping kegiatan akademis di perguruan tinggi, beliau aktif pula dalam kegiatan feminis sebagai Dewan Penasehat di Yayasan Suara Ibu Peduli, dan Koalisi Perempuan Indonesia dan Solidaritas Perempuan.

Sebagai Budayawan, beliau telah menerbitkan sajak-sajak dan puisinya dalam bentuk buku, dan selama 30 tahun aktif di kegiatan Taman Ismail Marzuki sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta dan anggota Yayasan Kesenian Jakarta. Toety Heraty juga tercatat sebagai rektor Institut Kesenian Jakarta pada tahun 1990-1996.

Ia juga aktif diundang untuk berbagai kegiatan di manca negara seperti Poetry International di Rotterdam ditahun 1981, memberikan ceramah sastra di PEN Club International Tokyo tahun 1984, International Writers Program di Lowa State University pada tahun 1985, pembacaan sajak di School Oriental and African Studies, serta tampil pada sejumlah seminar international untuk bidang sastra dan filsafat di Den Haag, Toronto, Kuala Lumpur, dan Berlin.

Kegiatan seni budaya untuk masyarakat luas dilaksanakan di Galeri Cemara 6, yang disamping menjadi galeri feminis juga tempat MARA dan PAN didirikan. Sejak 4 Maret 1999 menjadi Ketua Yayasan MITRA BUDAYA menggantikan ibu Herawati Diah, dan Wisma Mitra Budaya menjadi kantor majalah Mitra Jurnal Budaya dan Filsafat. Untuk kegiatan bisnis, sejak tahun 1966 hingga kini beliau menjabat sebagai pimpinan Biro Oktroi Roosseno. Perusahaan yang bergerak di bidang Patent, Trademark dan Copyright, sehingga sempat menjadi Ketua Asian Patent Attorney Association untuk Grup Indonesia, dan saat ini masih menjabat sebagai Ketua Association Internationalle Pour La Protection De La Propertie Industrielle (AIPPI), anggota Asean Intellectual Property Association (AIPA) dan anggota Indonesia Intelectual Property Society (IIPS). Untuk pengabdiannya terhadap masyarakat beliau sering menjadi pembicara dalam seminar-seminar, baik di dalam maupun di luar negeri.

Sebagai bukti pengabdiannya, beliau banyak mendapat penghargaan dari dalam maupun luar negeri. Toety Heraty mendapat gelar Sarjana Muda Kedokteran dari universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 1955, dan selanjutnya pada tahun 1962 lulus sebagai Sarjana Psikologi dari Universitas Indonesia, Sarjana Filsafat dari Rijks Universiteit, Leiden (1974), meraih gelar Doktor Filsafat dari Universitas Indonesia (1979), dan Guru Besar Luar Biasa dari Universitas Indonesia (1994).

Tandi Skober


Lahir di Indramayu, Jawa Barat, 22 Desember 1951. Menamatkan SMEA 1969, mengikuti Kursus Bendaharawan Kas negara  1961 kemudian bekerja di Kantor Bendahara dan Kas  Negara Medan.
Esai, cerpen dan cerita bersambungnya dimuat di Mimbar Umum, Analisa, Aneka Ria, Waspada, sinar Pembangunan, Dunia Wanita, Media Indonesia dll. Selain ini kerap menulis artikel di berbagai media seperti Mitra dialog, Pikiran Rakyat.

Arswendo Atmowiloto


Arswendo Atmowiloto (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 November 1948; umur 65 tahun) adalah penulis dan wartawan Indonesia yang aktif di berbagai majalah dan surat kabar seperti Hai dan KOMPAS. Mempunyai nama asli Sarwendo. Nama itu diubahnya menjadi Arswendo karena dianggapnya kurang komersial dan ngepop. Lalu di belakang namanya itu ditambahkannyalah nama ayahnya, Atmowiloto, sehingga namanya menjadi apa yang dikenal luas sekarang.
Pada tahun 1990, ketika menjabat sebagai pemimpin redaksi tabloid Monitor, ia ditahan dan dipenjara karena satu jajak pendapat. Ketika itu, Tabloid Monitor memuat hasil jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh pembaca. Arswendo terpilih menjadi tokoh nomor 10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad SAW (Nabi umat Muslim) yang terpilih menjadi tokoh nomor 11. Sebagian masyarakat Muslim marah dan terjadi keresahan di tengah masyarakat. Arswendo kemudian diproses secara hukum sampai divonis hukuman 5 tahun penjara.
Arswendo mulanya beragama Islam, namun berpindah agama menjadi Katholik mengikuti agama sang istri.
Selama dalam tahanan, Arswendo menghasilkan tujuh buah novel, puluhan artikel, tiga naskah skenario dan sejumlah cerita bersambung. Sebagian dikirimkannya ke berbagai surat kabar, seperti KOMPAS, Suara Pembaruan, dan Media Indonesia. Semuanya dengan menggunakan alamat dan identitas palsu.
Untuk cerita bersambungnya, "Sudesi" (Sukses dengan Satu Istri), di harian "Kompas", ia menggunakan nama "Sukmo Sasmito". Untuk "Auk" yang dimuat di "Suara Pembaruan" ia memakai nama "Lani Biki", kependekan dari Laki Bini Bini Laki, nama iseng ia pungut sekenanya. Nama-nama lain pernah dipakainya adalah "Said Saat" dan "B.M.D Harahap".
Setelah menjalani hukuman 5 tahun ia dibebaskan dan kemudian kembali ke profesi lamanya. Ia menemui Sudwikatmono yang menerbitkan tabloid Bintang Indonesia yang sedang kembang-kempis. Di tangannya, Arswendo berhasil menghidupkan tabloid itu. Namun Arswendo hanya bertahan tiga tahun di situ, karena ia kemudian mendirikan perusahaannya sendiri, PT Atmo Bismo Sangotrah, yang memayungi sedikitnya tiga media cetak: tabloid anak Bianglala, Ina (kemudian jadi Ino), serta tabloid Pro-TV. Saat ini selain masih aktif menulis ia juga memiliki sebuah rumah produksi sinetron.
Kakaknya, Satmowi Atmowiloto, adalah seorang kartunis. Karya :
Bayiku yang Pertama (Sandiwara Komedi dalam 3 Babak) (1974)
Sang Pangeran (1975)
Sang Pemahat (1976)
The Circus (1977)
Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku (1980)
Dua Ibu (1981)
Serangan Fajar (diangkat dari film yang memenangkan 6 Piala Citra pada Festival Film Indonesia) (1982)
Pacar Ketinggalan Kereta (skenario dari novel "Kawinnya Juminten") (1985)
Anak Ratapan Insan (1985)
Airlangga (1985)
Senopati Pamungkas (1986/2003) - dianggap sebagai bestseller oleh Gramedia
Akar Asap Neraka (1986)
Dukun Tanpa Kemenyan (1986)
Indonesia from the Air (1986)
Garem Koki (1986)
Canting (sebuah roman keluarga) (1986) - dianggap sebagai bestseller oleh Gramedia
Pengkhianatan G30S/PKI (1986)
Lukisan Setangkai Mawar (17 cerita pendek pengarang Aksara) (1986)
Telaah tentang Televisi (1986)
Tembang Tanah Air (1989)
Menghitung Hari (1993)
Sebutir Mangga di Halaman Gereja: Paduan Puisi (1994)
Projo & Brojo (1994)
Oskep (1994)
Abal-abal (1994)
Khotbah di Penjara (1994)
Auk (1994)
Berserah itu Indah (kesaksian pribadi) (1994)
Sudesi: Sukses dengan Satu Istri (1994)
Sukma Sejati (1994)
Surkumur, Mudukur dan Plekenyun (1995)
Kisah Para Ratib (1996)
Senja yang Paling Tidak Menarik (2001)
Pesta Jangkrik (2001)
Keluarga Cemara 1
Keluarga Cemara 2 (2001)
Keluarga Cemara 3 (2001)
Kadir (2001)
Keluarga Bahagia (2001)
Darah Nelayan (2001)
Dewa Mabuk (2001)
Mencari Ayah Ibu (2002)
Mengapa Bibi Tak ke Dokter? (2002)
Dusun Tantangan (2002)
Fotobiografi Djoenaedi Joesoef: Senyum, Sederhana, Sukses (2005)
Kau Memanggilku Malaikat (2007)
Imung
Kiki
Mengarang Itu Gampang

Seno Gumira Ajidarma


Seno Gumira Ajidarma (lahir di BostonAmerika Serikat19 Juni 1958; umur 55 tahun) [2] adalah penulis dari generasi baru di sastra Indonesia. Beberapa buku karyanya adalah Atas Nama MalamWisanggeni—Sang BuronanSepotong Senja untuk PacarkuBiola tak berdawaiKitab Omong KosongDilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja.
Dia juga terkenal karena dia menulis tentang situasi di Timor Timur tempo dulu. Tulisannya tentang Timor-Timur dituangkan dalam trilogi buku Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum, dan Insiden (roman), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai).
Seno Gumira Ajidarma adalah putra dari Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, seorang guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada [3]. Tapi, lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan pemikiran sang ayah.
Setelah lulus SMP, Seno tidak mau melanjutkan sekolah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, dia pun mengembara mencari pengalaman. Seperti di film-film: ceritanya seru, menyeberang sungai, naik kuda, dengan sepatu mocasin, sepatu model boot yang ada bulu-bulunya. Selama tiga bulan, ia mengembara di Jawa Barat, lalu ke Sumatera. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Karena kehabisan uang, dia meminta uang kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan sekolah.
Ketika SMA, ia sengaja memilih SMA Kolese De Britto yang boleh tidak pakai seragam. Komunitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di lingkungan elite perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya. Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro.Dia juga ikut teater Alam pimpinan Azwar A.N selama 2 tahun.
Tertarik puisi-puisi karya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Teman-teman Seno mengatakan Seno sebagai penyair kontemporer. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison.Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater.
Pada usia 19 tahun, Seno bekerja sebagai wartawan, menikah, dan di tahun itu juga Seno masuk Institut Kesenian Jakarta, jurusan sinematografi. [3]
Dia menjadi seniman karena terinspirasi oleh Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong.
Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Karya lain berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang[ (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997.
Kesibukan Seno sekarang adalah membaca, menulis, memotret, jalan-jalan, selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta. [4] Juga kini ia membuat komik. Baru saja ia membuat teater.

Dorothea Rosa Herliany



Dorothea Rosa Herliany (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 20 Oktober 1963; umur 50 tahun) adalah seorang penulis dan penyair Indonesia.
Setamat SMA Stella Duce di Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Sastra Indonesia, FPBS IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta (kini Universitas Sanata Dharma) dan tamat dari sana tahun 1987.
Ia mendirikan Forum Ritus Kata dan menerbitkan berkala budaya Kolong Budaya. Pernah pula membantu harian Sinar Harapan dan majalah Prospek di Jakarta. Kini ia mengelola penerbit Tera di Magelang.
Ia menulis sajak dan cerpen. Kumpulan sajaknya: Nyanyian Gaduh (1987), Matahari yang Mengalir (1990), Kepompong Sunyi (1993), Nikah Ilalang (1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999), dan Kill the Radio (Sebuah Radio, Kumatikan; edisi dwibahasa, 2001). Kumpulan cerpennya: Blencong (1995), Karikatur dan Sepotong Cinta (1996).

Senin, 23 Desember 2013

Cok Sawitri




Cok Sawitri lahir di Sidemen, Karangasem, Bali, 1 September 1968, kini tinggal di Denpasar, Bali. Pertengahan tahun 2006, ia berkolaborasi dengan Dean Moss dari New York dalam acara Dance Theater.

Selain sebagi aktivis teater, Cok juga menulis beberapa artikel, puisi, cerita pendek dan juga aktif dalam aktifitas budaya sosial sebagai pendiri Forum Perempuan Mitra Kasih Bali ditahun 1997 dan Kelompok Tulis Ngayah ditahun 1989. Cok tercatat sebagai salah satu dari penasehat The Parahyang untuk majelis Desa Pekraman atau desa dat) di Sidemen, Karangasem, Bali. Ia juga aktif dalam organisasi yang bergerak dalam bidak perempuan dan kemanusiaan sampai grup-grup teater di Bali.

Menurutnya teater di Bali sangat berbeda dari teater lain di Indonesia, atau di dunia pada umumnya. Perbedaan yang sederhana adalah teater di Bali sangat berdasarkan pada proses kreatif budaya di pulau tersebut. Pertunjukan di Bali umumnya menampilkan kekuatan dan semangat.

Karya-karya dari Cok sawitri adalah Meditasi Rahim tahun 1991, Pembelaan Dirah dan puisi Ni Garu tahun 1996, Permainan Gelap Terang ditahun 1997, Sekuel Pembelaan Dirah pada tahun 1997, Hanya Angin Hanya Waktu tahun 1998, Pembelaan Dirah pada festival monolog tahun 1999 di Bali, Puitika Melamar Tuhan tahun 2001, Anjing Perempuanku, di Denpasar, Singaraja, Karangasem dtahun 2003, Aku Bukan Perempuan Lagi tahun 2004, Badan Bahagia, bagian dari wisuda Gumi, episode pertama dari Pembelaan Dirah di Ubud, dan Pusat Seni Provinsi Bali pada tahun2005.

Oka Rusmini (Ida Ayu Oka Rusmini)

Rusmini(lahir di Jakarta, 11 Juli 1967; umur 46 tahun) adalah seorang penulis Indonesia, terutamapuisi, novel dan cerpen. Ia juga pernah menjadi seorang wartawan di Bali Post. [1]
Sosok dan karya-karyanya fenomenal dan seringkali kontroversial karena mengangkat sejumlah persoalan adat-istiadat dan tradisi Bali yang kolot dan merugikan perempuan, terutama di lingkungan griya, rumah kaum Brahmana. Oka juga dengan lugas mendobrak tabu, mendedahkan persoalan seks dan erotika secara gamblang. Semuanya itu dengan jelas bisa dinikmati pada novel Tarian Bumi (2000) yang telah dicetak ulang dan terbit berbahasa Jerman dengan judul Erdentanz (2007). Novel tersebut juga banyak diilhami kesenian Joged Bumbung, tari pergaulan penuh gerakan erotis yang sangat populer di Bali. [2]
Ia telah beberapa kali diundang dalam acara kesusastraan di dalam dan luar negeri. Pada 1992 ia diundang sebagai penyair tamu dalam Festival Kesenian Yogya IV. Mengikuti Mimbar Penyair Abad 21 di TIM (Taman Ismail Marzuki), Jakarta pada tahun 1996. Mewakili Indonesia pada temu penulis se-ASEAN pada bulan Oktober 1997 yang bertajuk Bengkel Kerja Penulisan Kreatif ASEAN" di Jakarta. [3] Pada tahun 2002 dan 2003 ia diundang pada Festival Puisi International di Surabaya dan Denpasar, dan pada 2003 menjadi tamu undangan Festival Winternachten yang diadakan di Hague danAmsterdam. Ia juga menjadi penulis tamu di Universitas Hamburg, Jerman, tahun 2003.

Oka Rusmini (Ida Ayu Oka Rusmini), the poet and novelist, was born on 11 July 1967 in Jakarta, Indonesia. Presently, she lives in Denpasar, Bali. Her writing is characteristic of the condition of women in the patriarchal culture in traditional society.[1]
Oka has to her credit collections of short stories, poems and novels. Oka's poem has also been included along with twelve other Balinese contributors in a book entitled Bali Living in Two Worlds, edited by Urs Ramseyer from the Museum der Kulturen Basel in Switzerland.[2]
She has also served as the fashion editor in the Bali Post, the largest local newspaper in Bali. She has been speaking at various national and international literary forums, such as "Ubud Writers and Readers Festival" in Bali; the "Pulpit Poet 21st Century" at Taman Ismail Marzuki, Jakarta in 1996; ASEAN Writers Writing Program, 1997; "International Poetry Festival", Surakarta, 2002 and that in Denpasar, Bali in 2003. She represented Indonesia at the "Winternachten Literature Festival" in The Hague and Amsterdam, the Netherlands. In 2003, she was invited as a guest author at the University of Hamburg, Germany.[3]
In 1994, she won the best short story prize for her entry "Putu Menolong Tuhan" in the Femina magazine, which was also translated as "Putu Helps his God" by Vern Cork and included in a book Bali Behind the Seen, published in Australia. In the same magazine, her novel "Sagra" won the prize for the novel category. This was followed by the Horizon literary magazine best short story award for her collection of stories entitled "Pemahat Abad", translated as The Sculptor of the Century, in the period 1999-2000. Her short story "The Century Carver" has been translated into English by Pamela Allen. Poetry Journal awarded her with the best poetry in 2002. In 2003, her novel Tarian Bumi, "Dance of the Earth" was hailed as the "Work Honorees Writing Literature 2003" by the Ministry of Education, Language Centre, Indonesia.[4] The novel has been translated in German and is in process to be translated into English by Lontar Foundation.
Rusmini, Oka (1997). Monolog Pohon: 30 Sajak [Monologue Tree] (in Indonesian). Denpasar: Griya Budaya. OCLC 68081169.
Utan Kayu: Tafseer in Games (1998)
Bali: The Morning After (Australia, 2000)
Rusmini, Oka (2001). Sagra (in Indonesian). Magelang: IndonesiaTera. ISBN 979-9375-43-6 9789799375438 Check |isbn= value (help). OCLC 48266060.
Rusmini, Oka (2001). Bali: living in two worlds : a critical self-portrait. Germany: Museum der Kulturen Basel. ISBN 3-7965-1873-7 9783796518737 Check |isbn= value (help). OCLC 49847870.
Rusmini, Oka (2003). Kenanga (in Indonesian). Indonesia: Gramedia Widiasarana. ISBN 979-732-168-1 9789797321680 Check |isbn= value (help). OCLC 52757274.
Rusmini, Oka (2003). Patiwangi (in Indonesian). Jogjakarta, Jakarta: Bentang Budaya. ISBN 979-3062-96-7 9789793062969 Check |isbn= value (help). OCLC 53059140.
Boxwood (2003)
Rusmini, Oka (2004). Malaikat biru kota Hobart : suara dari Bali (in Indonesian). Jogjakarta: Logung Pustaka : Akar Indonesia. OCLC 58536543.
McGlynn, John (2006). Menagerie: Indonesian fiction, poetry, photographs, essays, Volume 4. Jakarta: Lontar Foundation.
Rusmini, Oka (2007). Warna kita : seratus puisi pilihan (in Indonesian). Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. ISBN 979-759-710-5 9789797597108 Check |isbn= value (help). OCLC 138344720.
Rusmini, Oka (2007). Erdentanz [Roman aus Bali] (in German). Germany: Bad Honnef Horlemann. ISBN 978-3-89502-234-0 3895022349 Check |isbn= value (help). OCLC 188168178.
Rusmini, Oka (2007). Tarian bumi : sebuah novel [Dance of the Earth] (in Indonesian). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-979-22-2877-9 9792228772 Check |isbn= value (help). OCLC 169896533.
Rusmini, Oka (2008). Pandora : kumpulan puisi (in Indonesian). Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. ISBN Gramedia Widiasarana Indonesia Check |isbn= value (help). OCLC 271872265.
Rusmini, Oka (2009). Kundangdya (in Indonesian). Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-685-965-8 9796859653 Check |isbn= value (help). OCLC 599052170.
Rusmini, Oka (2010). Tempurung (in Indonesian). Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. ISBN 978-979-081-063-1 9790810636 Check |isbn= value (help). OCLC 645787765.
Color We (2007)
The Century Carver (2009)

Isbedy Stiawan ZS


Isbedy mulai bersentuhan dengan dunia sastra sejak bangku SMP tahun 1975. Karya-karya Kho Ping Hoo adalah bacaan yang saat itu digemarinya. Sebelum terkenal sebagai penulis, ia tekun bertaeter bersama Syaiful Irba Tanpaka dan A.M. Zulqornain dalam Sanggar Ragom Budaya. Ketika STM, dia mulai menggeluti sastra, yaitu menulis puisi dan cerpen. Dia kerap membacakan sajaknya dari panggung ke panggung. Karya pertama Isbedy yang dimuat pertama adalah cerita pendek di Mingguan Swadesi. Sejak itu puisi, cerpen, dan esainya mengalir deras dan dimuat di berbagai media lokal dan nasional.
Umumnya, proses kreatif puisi Isbedy lahir setelah ia menemukan kata-kata puitis terlebih dahulu, lalu diolah menjadi puisi. Ide kreatifnya bisa muncul kapan saja, saat perjalanan, merenung di waktu malam atau langsung di depan komputer. Isbedy juga dikenal sebagai sastrawan fenomenal di Lampung yang tiada henti menghidupkan keberlangsungan sastra di Lampung hingga kini. Kedekatannya kepada kalangan sastrawan muda Lampung, menyebabkan ia didudukkan sebagai "pengayom" sastra.
Dia pernah diundang mengikuti berbagai kegiatan sastra di berbagai kota di Tanah Air, Malaysia, Thailand seperti Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Bahru dan Kedah (Malaysia), Dialog Utara di Thailand, Utan Kayu Literary Festival, dan Ubud Writers and Readers International Festival. Diundang Dewan Kesenian Jakarta pada 2005, dalam perhelatan Cakrawala Sastra Indonesia. Karya : 
Darah (kumpulan sajak, 1982)
Badai (kumpulan sajak, 1984)
Akhir (kumpulan sajak, 1986)
Khalwat (kumpulan sajak, 1988)
Membaca Bahasa Sunyi (kumpulan sajak, 1990)
Lukisan Ombak (kumpulan sajak, 1992)
Kembali Ziarah (kumpulan sajak, 1996)
Daun-Daun Tadarus (kumpulan sajak, 1997)
Aku Tandai Tahi Lalatmu (kumpulan sajak, 2003)
Ziarah Ayah (kumpulan cerpen, 2003)
Menampar Angin (kumpulan sajak, 2003)
Bulan Rebah di Meja Diggers (kumpulan cerpen, 2004)
Dawai Kembali Berdenting (kumpulan cerpen, 2004)
Perempuan Sunyi (kumpulan cerpen, 2004)
Kota Cahaya (kumpulan sajak, 2005)
Selembut Angin Setajam Ranting (kumpulan cerpen, 2005)
Seandainya Kau Jadi Ikan (kumpulan cerpen, 2005)
Hanya untuk Satu Nama (kumpulan cerpen, 2005)
Salamku pada Malam (kumpulan sajak, 2006)
Perahu di Atas Sajadah (kumpulan sajak, 2006)
Laut Akhir (kumpulan sajak, 2007)
Lelaki yang Membawa Matahari (kumpulan sajak, 2007)
Setiap Baris Hujan (kumpulan sajak, 2008)
Anjing Dini Hari (kumpulan sajak, 2010)

Radhar Panca Dahana


Radhar Panca Dahana (lahir di Jakarta, 26 Maret 1965; umur 48 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Ia menyelesaikan Program S1 Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (1993) dan studi Sosiologi di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Paris, Perancis (2001).
Radhar memulai debut sebagai sastrawan sejak usia 10 tahun lewat cerpennya di Harian Kompas, "Tamu Tak Diundang". Lalu, menapak karier jurnalistik sebagai redaktur tamu malalah Kawanku (1977), reporter lepas hingga pemimpin redaksi di berbagai media seperti Hai, Kompas, Jakarta Jakarta, Vista TV, dan Indline.com. Kini, penjaga rubrik Gagasan di Harian Kompas dan pengajar di Universitas Indonesia. Karya :
Menjadi Manusia Indonesia (esai humaniora, 2002)
Lalu Batu (kumpulan sajak, 2003)
Jejak Posmodernisme (2004)
Cerita-cerita dari Negeri Asap (kumpulan cerpen, 2005)
Inikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia (esai humaniora, 2006)
Dalam Sebotol Coklat Cair (esai sastra, 2007)

Metamorfosa Kosong (kumpulan drama, 2007). 
Penghargaan : 
  • Terpilih sebagai satu di antara lima seniman muda masa depan Asia versi NHK (1996)
  • Meraih Paramadina Award (2005)
  • Duta Terbaik Pusaka Bangsa, Duta Lingkungan Hidup sejak 2004.
  • Menerima Medali Frix de le Francophonie 2007 dari 15 negara berbahasa Prancis

Jamal D Rahman


Jamal D Rahman adalah penyair kelahiran Lenteng Timur, Sumenep, Madura 14 Desember 1967. Dia adalah alumni Ponpes Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura dan kemudian IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Munulis puisi, esai, keritik sastra, masalah kesenian dan kebudayaan di berbagai media massa, seperti; Kompas, Republika, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Jawa Pos, Media Indonesia, Horison, dan Jurnal Puisi. Seringkali diundang mengikuti acara-acara sastra di berbagai kota di Indonesia dan malaysia, antara lain Program Penulisan MASTERA Bidang Esai di Cisarua Bogor (1999), Seminar Keritikan Sastera Melayu Serantau, Kuala Lumpur (2001), dan Pertemuan Penulis Asia Tenggara di Kuala Lumpur (2001). Sekarang bergiat di majalah Horison dan membentuk sanggar-sanggar sastra di sekolah.
Karya-karyanya: Airmata Diam (1993). Garam-garam Hujan (2003). Termuat juga dalam antologi bersama, di antaranya: Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2002), dari fansuri ke handayani (2001), Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi 1 (2002). Tulisan-tulisannya di sejumlah buku; Islam dan Transformasi Sosial-Budaya (1993), Romo Mangun di Mata para Sahabat (1997), Tarekat Nurcholishy (2001), dan Ulama Perempuan Indonesia (2002).

Eko Tunas


Eko Tunas (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 18 Juli 1956; umur 57 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Seniman serbabisa, ini menulis, melukis, dan berteater sejak masih duduk di bangku SMA. Saat ini tinggal dan menetap di Kota Semarang. Ratusan tulisan (puisi, cerpen, novel, dan esai) tersebar di berbagai media massa di Indonesia, antara lain; Pelopor Yogya, Masa Kini, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka, Bahari, Dharma, Surabaya Pos, Jawa Pos, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Suara Karya, Pelita, Republika, Kompas, Horison, dan lain-lain. Di kalangan masyarakat Tegal, Eko Tunas juga dikenal sebagai pelopor penggunaan istilah John dan Jack, sebuah cara menyebut sesama rekan sejawat (John dan Jack Pergi dari Tegal, Joshua Igho, Kompas Cetak, 25 September 2002)
Tahun 1976 ia masuk Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis, dan bergabung di Sanggarbambu. Selama di Yogya, ia bergaul akrab dengan Emha Ainun Nadjib, Ebiet G Ade, dan EH Kartanegara. Beberapa kali mengikuti pameran besar Sanggarbambu, dan pameran Tiga Muda di Tegal, tahun 1978 bersama Wowok Legowo dan Dadang Christanto. Tahun 1981 masuk IKIP Semarang jurusan Seni Rupa, dan mengikuti pameran mahasiswa di Semarang dan Jakarta.
Novelnya, Wayang Kertas, memenangkan Sayembara Cipta Cerita Bersambung Suara Merdeka, tahun 1990. Beberapa cerpennya diterbitkan bersama oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam buku Bidadari Sigarasa, tahun 2002, dan dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Buku-buku karyanya yang pernah diterbitkan antara lain; Puisi-puisi Dolanan (1978), Yang Terhormat Rakyat (kumpulan puisi, 2000), Ponsel di Atas Bantal (kumpulan puisi, 2010), dan Tunas (kumpulan cerpen, CresindoPress, 2013).
Tahun 1978, bersama Yono Daryono dan YY Haryoguritno mendirikan Teater RSPD Tegal dan Studi Grup Sastra Tegal (SGST). Naskah pertama yang dipentaskan adalah Martoloyo Martopuro, sebagai penulis, sutradara, dan sekaligus pemeran utama. Hijrah ke Kota Semarang pada tahun 1981 masih menulis naskah drama untuk Teater RSPD yang disutradarai oleh Yono Daryono, juga untuk Teater Lingkar Semarang. Bergabung di Teater Dhome (1980) dan Teater Balling Semarang (2000). Mendirikan Teater Pedalangan Semarang, tahun (1990). Kini acapkali mementaskan monolog di beberapa kota di Indonesia. Menulis syair lagu untuk kelompok musik terapi jiwa Jayagatra Ungaran (2000—sekarang). Sering kali diundang sebagai juri/pembicara dalam kompetisi/diskusi-diskusi sastra, teater, maupun seni rupa. Karya Karya :
Wayang Kertas (novel, 1990)
Bidadari Sigarasa (cerpen 2002)
Puisi Dolanan (1978)
Yang Terhormat Rakyat (puisi, 2000)
Ponsel di Atas Bantal (puisi, 2010)
Tunas (cerpen, CresindO Press, 2013)
  • Martoloyo Martopuro
  • Ronggeng Keramat
  • Menunggu Tuyul
  • Gerbong
  • Sang Koruptor
  • Langit Berkarat
  • Rumah Tak Berpintu
  • Palu Waktu
  • Surat dari Tanah Kelahiran
  • Meniti Buih
  • Pasar Kobar

Nenden lilis Aisyah


                                                                       Nenden lilis Aisyah 
Lahir di Garut, Jawa Barat, 26 September 1971. Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Pendidikan dan Sastra Indonesia FBPS IKIP Bandung dan menyelesaikan S2 di IKIP Bandung. Pernah menjadi redaktur majalah Kampus, Isola. Aktif menulis esai, resensi, reportasi, cerpen, dan puisi di beberapa surat kabar antara lain : Kompas, Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Majalah Sastra Horison, dll.

Puisi-puisinya terbit dalam antologi Mimbar penyair abad 21, Malam Seribu Bulan, Tangan Besi, Gelak Esai dan Ombak Sajak Anno 2002, Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, Dari Fansuri ke Handayani, Wanita Penyair Indonesia, Nafas Gunung, Bunga Berserak, Aku akan Pergi ke Banyak Peristiwa telah di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Belanda bahkan Ari KPIN memusikalisasikan sajak-sajaknya dalam Negeri Sihir dan terbit dalam bentuk kaset.

Cerpennya yang telah terbit antara lain dalam antologi Dunia Ibu, Dunia Perempuan, Apresiasi Cerita Pendek Indonesia dan Bulan Kertas yang terpilih dalam Cerpen Pilihan Kompas 2000. Antologi cerpennya Ruang Belakang memenangkan lomba penulisan cerpen yang diselenggarakan oleh Pikiran Rakyat Edisi Cirebon dan Bank BTPN Cirebon.

Kerap di undang dalam berbagai kegiatan sastra, antara lain Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Workshop cerpen Majelis Sastra Asia Tenggara, Festival de Winternachten di Den Haag Belanda, KBIH Paris Perancis (1999), Festival Puisi Internasional di Teater Utan Kayu Jakarta (2000), Kongres Cerpen I di Yogyakarta (2000), Festival Puisi Internasional Indonesia (2002), Diskusi dan Pembacaan Puisi di Yayasan Kesenian Perak Ipoh Malaysia (2004).

Selain itu, ia juga mengisi ceramah dan apresiasi sastra di berbagai sekolah dan Perguruan Tinggi di Indonesia serta aktif dalam pelatihan-pelatihan sastra. Mendirikan Komunitas Sastra Dewi Sartika (KSDS) di bandung yang mengkhususkan diri pada pengembangan potensi, kreatifitas dan sosialisasi karya perempuan. Kini ia bekerja sebagai dosen Jurusan Sastra Indonesia UPI, Bandung.

Sosiawan Budi Sulistyo/ Sosiawanj Leak


Sosiawan Leak (lahir di SurakartaJawa Tengah23 September 1967; umur 46 tahun) yang punya nama asli Sosiawan Budi Sulistyo adalah seorang aktor, penyair, penulis, dan pembicara. Menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Solo tahun 1994. Aktif berkesenian sejak 1987 dalam bidang teater dan sastra meski belakangan juga melakukan kerja kreatif di bidang musik dan kolaborasiantarcabang kesenian. Menulis puisi dan naskah drama sejak 1987. Puisinya dipublikasikan di berbagai media massa, di samping diterbitkan oleh berbagai forum dan festival sastra bersama penyair lain. Diundang tampil membaca puisi dan menjadi narasumber di berbagai acara sastra seperti Konggres Sastra Indonesia di Kudus (2008), Temu Sastrawan Indonesia di Jambi (2008), Revitalisasi Budaya Melayu di Tanjung Pinang (2008), Festival Sastra Kepulauan di Makassar (2009]], Aceh International Literary Festival (2009), Ubud Wiriters and Readers Festival di UbudBali (2010), Kedutaan Besar Indonesia di Berlin, Universitas Hamburg (Departemen Austronesistik), Deutsch Indonesische Gesellschaft Hamburg.Karya :
  • Umpatan, bersama KRT Sujonopuro (Yayasan Satya Mitra Solo, 1995)
  • Cermin, bersama Gojek JS dan KRT Sujonopuro (Yayasan Satya Mitra Solo, 1996)
  • Dunia Bogambola, bersama Thomas Budi Santosa (Indonesiatera Yogyakarta, 2007)
  • Matajaman, bersama Budhi Setyawan dan Jumari HS (Duniatera Magelang, 2011)
  • Kidung dari Bandungan, bersama Rini Tri Purspohardini (Almatera Yogyakarta, 2011)
  • Restu (1990)
  • Tahta (1991)
  • Suara (1992)
  • Tanda
  • Umbu (1993)
  • Ode (1994)
  • Galib (1994)

Soni Farid Maulana



Penyair dalam bahasa sunda dan Indonesia ini lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 19 Februari 1962. Setamat SMA, melanjutkan pendidikannya ke Akademi Seni Tari (ASTI)Bandung jurusan teater. Sajak-sajaknya dimuat dalam majalah-majalah Mangle, Galura, Horison, Ulumul Quran dll. Karya sajaknya, Tusuk Gigi (1987) oleh musikus Harry Roesli (alm) direpresentasikan ke dalam pertunjukan Opera Tusuk Gigi (1996) di Bandung.

Beberapa sajaknya diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. A. Teeuw dan Linda Voute. Selain itu, sajaknya diterjemahkan pula ke dalam bahasa Jerman oleh Dr. Berthold Damshauser. Kumpulan sajaknya yang berbahasa Indonesia yang telah diterbitkan antara lain: Bunga Kecubung (1984), Krematorium Matahari (1985),Para Peziarah (1987), Matahari Berkabut (1989), Impian Depan Cermin (1993), Guguran Debu (1994), Panorama Kegelapan (1996), Sehabis Hujan: Sehimpun Puisi 1980-1993 (1996), Orang Malam (1998) dan Kita Lahir Sebagai Dongengan (2000). Selain itu ada juga kumpulan sajaknya yang berbahasa Sunda yang telah diterbitkan yaitu berjudul Kalakay Mega (Daun Mega Kering, 1992).

Penyair yang sehariharinya bekerja sebagai wartawan surat kabar Pikiran Rakyat ini sering diundang membacakan sajaknya dalam berbagai kesempatan antara lain, dalam Forum Temu Budaya 1986 di TIM Jakarta. Mengikuti East Asian Writers Conference IV di Queezon City, Filipina (1990), dan di tahun 1999, diundang untuk membacakan sajak pada Festival de Winternachten, di Den Hag, Belanda.

Rg. Bagus Warsono


Lahir dengan nama Rg.(Ronggo) Bagus Warsono lebih dikenal dengan Agus Warsono, SPd.MSi,dikenal sebagai sastrawan dan pelukis Indonesia. Lahir Tegal 29 Agustus 1965. Ayahnya seorang guru yang bernama Rg. Yoesoef Soegiono, (trah Ronggo Kastuba). Sejak kecil sudah senang membaca. Usia 10 tahun sudah menamatkan Api Dibukit Menoreh karya SH Mintardja. Kegemaran membaca ini sampai mendirikan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (1999). Mulai masuk Sekolah  tinggal di Indramayu.Mengunjungi SDN Sindang II, SMP III Indramayu, SPGN Indramayu, (S1) STIA Jakarta , (S2) STIA Jakata. Tulisannya tersebar di berbagai media regional dan nasional. Redaktur Ayokesekolah.com.Pengalaman penulisan pernah menjadi wartawan Mingguan Pelajar, Gentra Pramuka, Rakyat Post, dan koresponden di beberapa media pendidikan nasional. Anggota PWI Cabang Jawa barat. 
Karya antara lain:
1. Rumahku di Tepi Rel Kereta Api (Kumpulan cerpen anak 1992)
2. Menanti hari Esok (antologi puisi)
3. Mata Air (antologi puisi)
4. Bunyikan Aksara Hatimu (BAH) (antologi puisi)
5. Si Bung (Bung Karn0) (antologi puisi)
Antologi bersama :
 Puisi Menolak Korupsi (PMK II)
Cergam antara lain :
1. Si Kacung Ikut Gerilya
2. Kopral dali
3. Pertempuran Heroik Di Ciwatu
4. Pertempuran Selawe
5. Si Jagur 
6. Panglima Indrajaya
7. Endang Dharma
8. Laskar Wiradesa
Buku-buku Pendidikan:
1.Bahasa Indramayu untuk SD/MI
2.Belajar membaca Kelas Rendah SD
3.Mengenal Anyaman
Penghargaan :
Penghargaan Karya Tulis Terbaik (PGRI Jabar 1996)
Penghargaan Cerita Anak Depdiknas 2004